10 alasan kenapa aku pindah ke Bali

Setelah kontrak kerjaku selesai di India, aku tidak langsung lompat untuk cari kerja. Aku memilih rute yang kurang umum, yaitu menghabiskan tabungan buat traveling keliling Asia Tenggara bersama ex-roommate ku, Zoe. Traveling dalam misi mencari “tempat tinggal selanjutnya”. Buat aku, kerjaan bisa dicari dimana saja, tapi menemukan tempat tinggal gak segampang yang orang duga.

Perjalananku pun dimulai dari Thailand, Laos, Kamboja, Singapore, Malang, Semarang, dan Jogjakarta. Kita traveling hampir dua bulan lamanya tapi mendekati akhir perjalanan, aku hampir putus asa dan berpikir “Baiklah, aku cari kerja di Jakarta saja seperti orang kebanyakan”. Pada waktu itu rencananya setelah dari Jogjakarta kita mau bertolak ke Bandung, tapi Zoe tiba-tiba berinisiatif untuk pergi ke Bali sebagai destinasi selanjutnya karena dia penasaran dengan Bali. Akhirnya dengan uang pas-pasan, kita naik kereta ekonomi dari Jogjakarta menuju Bali.

Sesampai di Bali, kita memutuskan untuk tinggal di Ubud. Zoe tiba-tiba mengalami demam tinggi dan sakit yang luar biasa. Setelah kita periksa ke dokter, ternyata ia terkena kencing batu. Dokter pun menyarankan Zoe untuk bedrest sampai dia pulang ke Amerika. Karena kondisi Zoe, akhirnya selama 3 hari di Bali aku habiskan dengan jalan-jalan sendirian di Ubud sambil belajar naik sepeda motor. Setiap hari aku menemukan hal unik di Ubud dan aku jadi semakin betah di Bali.

Hari terakhirku di Ubud aku memutuskan untuk naik motor ke daerah Tegalalang sendirian. Sambil minum kopi, cekrek foto instragram dan menikmati pemandangan sawah, aku pun memutuskan bahwa Bali adalah rumahku selanjutnya. Berikut alasan kenapa aku memilih pindah ke Bali.

Foto diambil di Tegalalang, di hari terakhir di Ubud sebelum akhirnya aku memutuskan tinggal di Bali (circa 2014) 

1. Getaway Instan

Yang paling aku suka dari Bali adalah kamu bisa menemukan keindahan dimana-mana. Pulang kerja lebih cepat? Kamu bisa pergi ke pantai yang jaraknya antara 15-30 menit dari tempat kantor untuk menikmati sunset. Bosen di rumah waktu weekend? Kamu bisa pergi untuk day trip dan menikmati off-beaten track di Bali. Bosen sama kehidupan Bali? Kamu bisa pergi ke pulau-pulau tetangga seperti Nusa Lembongan atau Gili di Lombok. Getaway tidak harus direncanakan karena kamu bisa menemukan getaway sambil dalam perjalanan naik motor atau kebanyakan memakan waktu kurang dari satu jam.

2. Surganya makanan

Alasan lain aku pindah ke Bali adalah tempat ini surganya makanan terutama buat mereka yang vegan atau vegetarian. Mau makanan di restoran dengan chef kelas dunia yang ramah kantong? disini ada. Mau makan masakan tradisional Indonesia, disini ada. Mau makanan internasional seperti masakan India, Jepang, Peru, Mexico, Spanyol, Itali, Korea – disini juga ada. Harga makanan di Bali pun bervariasi dari yang murah 5,000 an per porsi hingga 500,000. Selain itu karena persaingan yang cukup ketat, restoran dan kafe di Bali memiliki keunikan tersendiri dari desain, menu hingga konsepnya. Selain makanan jadi, di Bali kita masih beli banyak sayuran segar di pasar tradisional. Aku bisa datang ke pasar subuh dan membeli sayur-sayuran segar hasil petik petani langsung dari perkebunan Gunung Batur yang mana sayuran-sayuran ini terjamin kualitasnya dan jelas datangnya darimana.

3. Tempat startup dari seluruh dunia berkumpul

Sewaktu aku mencari pekerjaan selesai perjalanan traveling bersama Zoe, akhirnya aku diterima di salah satu perusahaan startup di Bali yang akhirnya jadi tiket buat aku pindah ke Bali. Dulu aku pikir startup – startup hanya ada di Bandung dan Jakarta. Tapi ternyata Bali muncul sebagai hub startup selanjutnya di Indonesia. Startup-startup yang ada di Bali pun bisa dibilang bergerak di bidang yang unik,  dari yang bikin virtual simulation untuk edukasi, bikin apps dan games, sampai startup yang menciptakan teknologi video untuk NASA. Setiap bulan startup-startup ini sering berkumpul untuk ikutan meetup, sehingga kamu bisa menambah jejaring di dunia startup. Kebanyakan startup juga bekerja dengan model kantor yang unik: villa yang di ubah menjadi kantor lengkap dengan kolam renang dan pemandangan alam.

Kantor Livit yang ada kolam renangnya.

4. Bisa belajar apa saja

Karena beragamnya manusia yang tinggal di Bali yang datang dari seluruh penjuru dunia, kamu bisa mengakses ilmu-ilmu yang jarang kamu temui di tempat-tempat biasanya. Ini juga alasan kenapa aku pindah ke Bali karena kita bisa menambah wawasan dan skill dari para ahlinya. Pengen belajar tari sufi, disini ada gurunya. Pengen berlatih yoga, di Ubud penuh dengan guru yoga bersertifikasi. Pengen belajar alat musik perkusi Afrika, ada orang Bali yang baru pulang dari Afrika yang bisa mengajarkan kamu. Kalau kamu ingin belajar tentang bisnis, banyak tempat-tempat yang menawarkan kursus atau bahkan presentasi singkat tentang bisnis dari para profesional kelas dunia.

5. Beragam Komunitas

Di Bali ada beragam komunitas yang cukup aktif. Komunitas adalah nafas dari orang-orang yang tinggal di Bali. Mungkin diawali dari sistem Banjar di desa, jadi setiap orang punya jiwa komunal yang tinggi. Kamu bisa ikutan komunitas apa saja di Facebook dan tiap orang lokal maupun asing adalah bagian dari komunitas-komunitas tersebut. Dari Komunitas Pecinta Anjing, Kucing, Yoga, Fotografi, Bisnis, Musik, apapun itu disini ada. Setelah aku pindah ke Bali, aku menyadari bahwa komunitas-komunitas ini sangat membantu untuk menambah teman baru.  Buat yang punya bisnis, komunitas ini sangat membantu kamu untuk memperluas jaringan bisnismu. Komunitas-komunitas ini juga sering mengadakan pertemuan di tempat-tempat indah dengan aktifitas yang lain dari biasanya.

6. Kolaboratif

Salah satu yang aku paling suka dari orang-orang yang tinggal di Bali adalah semua orang sangat kolaboratif. Sewaktu aku mulai menjajaki bisnisku sendiri, aku gak nyangka betapa kooperatifnya orang-orang di Bali dibandingkan dengan orang-orang di luar dari Bali. Buat orang Bali, rezeki itu harus dibagi-bagi. Prinsip mereka adalah “Kalau kamu bawa pelanggan, pelanggan beli barang, Aku kasih kamu persenan, Jadi semua orang senang”. Buat mereka bisnis tidak akan berkembang tanpa adanya bantuan dari orang lain dan bantuan harus diapresiasi.  Selain itu mayoritas menjalankan kompetisi sehat, sering aku lihat manager dari hotel yang salinf bersebelahan di Bali saling berbagi tips, hang out bareng atau bahkan bagi-bagi tamu kalau semisal salah satu hotelnya penuh. Jarang sekali aku melihat kompetisi yang kolaboratif seperti ini. Dan inilah yang paling aku suka dari sifat berbisnis orang Bali

7. Digital Nomad Hub

Selain startup hub, Bali adalah tempatnya para Digital Nomad berlabuh. Digital Nomad adalah orang-orang yang bekerja tanpa kantor tetap. Mereka berkeliling dunia dari satu tempat ke tempat lain sambil bekerja lewat laptop dan dengan modal internet. Digital Nomad kebanyakan bekerja sebagai seorang freelance atau bekerja di perusahaan yang memperbolehkan mereka untuk kerja jarak jauh. Menurutku kehidupan Digital Nomad amat mengasyikkan karena mereka tidak terpaku oleh lokasi dan waktu. Mereka melakukan apa saja yang mereka mau diwaktu luang mereka: Surfing di pagi hari, kerja dari jam 1-4 sore, lanjut surfing sore hari. Dengan adanya para Digital Nomad ini, kamu bisa membuka wawasan baru tentang bagaimana bekerja tanpa lokasi dan mendapatkan kebebasan finansial di dunia digital.

Para Digital Nomad Bali juga sering membanjiri coworking space. Bali termasuk memiliki coworking space kelas dunia seperti Hubud, Outpost, Dojo, Kumpul dan Onion Collective. Coworking Space ini adalah pusat untuk berbagi ilmu dan juga jejaring. Para Digital Nomad juga sering mengadakan workshop yang bisa menambah skill-skill kamu.

Salah satu workshop mengenai Bitcoin di Hubud. 

8. Property unik

Setidaknya ada 10,000 property di Bali dari Villa, Hotel, Resort hinggal rumah dengan konsep unik. Sebagai orang yang bekerja di bidang property, inilah hobiku: mengunjungi property-property unik di Bali. Selain dari bentuknya yang unik, sekarang juga banyak bermunculan property dengan konsep sustainable dan eco-friendly. Salah satu benefit yang lain adalah keuntungan untuk bisa tinggal gratis di property-property mewah di Bali kalau kamu tau caranya.

9. Hidup Bersama Alam

Alasan paling kuat kenapa aku pindah ke Bali adalah koneksi dengan alam. Selama aku tinggal di Bali, aku bisa dengan mudah pergi ke kaki gunung dan menonton bintang jatuh. Dimana-mana aku selalu dikelilingi oleh hewan: dari anjing, kucing, tupai, ular, burung jalak, jangkrik, tokek, burung hantu dan macam-macam binatang yang lainnya. Setiap tempat selalu banyak pohon hijau dan sawah yang luas. Kalau ingin snorkeling, aku bisa melihat berbagai macam ikan di laut dengan jarak 10 meter dari tepi pantai. Atau buat kalian yang cinta hewan, kalian juga bisa ikutan berbagai program volunteering di tempat perlindungan hewan seperti konservasi kura-kura, atau shelter anjing dan kucing.

10. Bangga akan kebudayaan Indonesia

Dan tak terkecuali, pindah ke Bali memberikan aku kesempatan untuk hidup diantara salah satu kebudayaan Indonesia yang masih kental, yaitu kebudayaan Bali. Orang Bali memiliki kebanggaan yang tinggi akan kebudayaan mereka, Budaya asli orang Indonesia. Agama Hindu Bali adalah campuran dari ajaran Agama Hindu dan juga kepercayaan animisme dan dinamisme yang secara turun temurun dilestarikan. Kebudayaan Bali membuat aku bangga jadi orang Indonesia, karena kebudayaan ini sangat indah dari segi estetika dan juga filsafahnya.

View this post on Instagram

Melasti #sanur #bali #balibible #baliadvisor #nyepi

A post shared by Dea Rezkitha (@dearezkitha) on

Kamu juga memutuskan untuk pindah ke Bali? Share cerita dan alasanmu pindah ke Pulau Dewata di bawah ini.