Perjalananku menjadi vegan

Dulu aku termasuk orang anti-vegan. Menurutku ikan salmon dan steak terlalu enak untuk ditinggalkan, belum lagi Cheeseburger, yumm cheeseburger McDonald. Aku bisa makan itu setiap harinya.

Waktu kecil aku adalah anak yang paling susah untuk makan sayur. Kalau ada yang menawari salad, pasti tidak pernah aku makan. Setiap hari aku adalah penyantap ikan, ayam, daging sapi dan nasi. Sayur yang bisa aku makan hanyalah jangung dan kentang goreng. Jadi buat ibuku, aku menjadi seorang vegan adalah perubahan yang amat drastis.

Sewaktu aku tinggal di India, aku dikenalkan dengan berbagai masakan vegetarian karena penduduknya kebanyakan adalah vegetarian. Belum lagi dulu aku tinggal serumah dengan orang-orang Jain Vegetarian yang strict banget. Dan salah satu ibu roommate ku, Dipti, selalu membawa bekal vegetarian setiap hari buat cewek-cewek di rumah. Jadi lambat laun aku mulai menyukai masakan vegetarian, walaupun mostly aku tetap makan daging. Pernah sewaktu ketika aku tinggal di suatu desa kecil di Maharastra. Disana mayoritas penduduknya adalah vegetarian. Si Tuan Rumah menanyakan “mau dimasakin makanan apa buat makan malam?”  Aku seorang turis songong, minta request si Tuan Rumah di desa untuk menyediakan masakan kare ayam buat aku. Si Tuan Rumah menyanggupi permintaanku walaupun memasang muka masam. Malamnya aku diberi hidangan makanan vegetarian dan juga kare ayam yang aku request secara spesial. Pada saat aku makan ayam tersebut, terasa sekali kontras rasa makanan vegetarian dibandingkan dengan ayam. Makanan vegetarian justru lebih lezat. Belum lagi, karena mereka tidak biasa masak ayam, jadi ayam tersebut tidak dimasak secara benar. Masih ada bulu bulu halus yang menempel di kulit ayam. Aku tidak sanggup untuk makan karena jijik. Dan dengan sedih kare ayam itu hampir tidak aku sentuh. Wajah si Tuan Rumah terlihat kecewa melihat ayam yang tidak jadi aku sentuh. Satu, karena karena aku tidak menghabiskan makanannya dan kedua, aku secara paksa meminta dia untuk membunuh ayam yang berkeliaran di sekitar rumahnya dan sekarang makanan itu tidak aku sentuh. Sungguh itu kejadian yang tidak mengenakkan yang pernah aku rasakan memakan ayam. Dan itu terakhir kalinya aku meminta seseorang vegetarian untuk memasak daging.

Setelah kembali dari India, aku jadi mulai menikmati makan sayur-sayuran. Apalagi sewaktu aku di Copenhagen, hampir setiap hari aku makan di kantin mahasiswa karena biaya hidup di Denmark cukup tinggi. Dari segala hidangan disana, yang paling aku suka adalah salad. Mereka punya ratusan varian salad dan salad dressing. Jadi nggak cuman makan selada dengan bumbu vinegar aja. Tapi ada berbagai macam dressing yang enak banget. Dan berbagai sayuran-sayuran yang jarang aku temui di Indonesia.

Lambat laun aku mengalami transformasi dari yang dulunya anti makan sayur-sayuran menjadi penikmat makan sayur-sayuran. Tapi saat itu aku tidak pernah membayangkan diriku sebagai seorang vegetarian apalagi menjadi vegan.

Semuanya pun berubah, kira-kira dua tahun yang lalu aku mengalami sebuah pengalaman yang bisa aku bilang sebagai pengalaman spiritual. Malam itu aku merasakan sakit menjalar diseluruh tubuhku tanpa ada penyebab yang jelas. Sakit nya luar biasa ibarat ditusuk jarum-jarum kecil, aku pun mengeluarkan keringat dingin, jantung berdegup kencang dan semalaman aku tidak bisa tidur. Aku pikir aku mau mati. Keesokan harinya sakit di seluruh badanku hilang dan aku kehilangan nafsu untuk makan daging, seperti tiba-tiba otakku direset ulang. Yang ingin aku makan hanyalah kelapa muda, buah dan sayur. Membayangkan makan daging rasanya aku mau muntah. Seminggu berlalu, aku hanya makan sayur-sayuran, kelapa muda dan buah-buahan. Seminggu pun berubah menjadi sebulan. Penciumanku pun mulai berubah, bau sate yang dulunya nikmat dan menggoda berubah menjadi bau bangkai dan lemak yang terbakar. Aku berhenti melihat ayam potong sebagai makanan melainkan sebagai potongan tubuh. Satu bulan berlalu, dua bulan berlalu dan reaksiku tetap sama. Malah terkadang reaksiku terhadap bau-bau masakan daging jadi lebih parah, penciumanku menjadi semakin tajam dan aku berusaha menghindari bau-bau tersebut. Pernah secara tidak sengaja memakan potongan ayam, awalnya tidak terjadi apa-apa, namun kemudian perutku langsung terasa kembung dan maag ku kambuh tak karuan. Seperti badanku menolak mencerna daging. Karena badanku menolak makan daging, jadi aku hormati permintaannya dan beri apa yang ia mau, yaitu sayur-sayuran dan buah-buahan. Semenjak itu aku pun menjadi vegetarian.

Aku pikir menjadi vegetarian itu susah, tapi ternyata mudah sekali dilakukan, terutama kalau kamu tinggal di Bali. Keuntungan tinggal di Bali adalah restoran vegetarian hampir ada di seluruh tempat dari yang dimulai dari harga 15 ribu satu piring hingga 100 ribu satu piring. Tapi yang paling aku syukuri adalah akses untuk mendapatkan sayur-sayuran segar langsung dari petani yang bisa kamu dapat di pasar tradisional. Dari dulu aku suka memasak, dan apalagi saat tinggal sendiri memasak seperti jadi ritual rumahan. Yang paling aku syukuri disaat memasak masakan vegetarian adalah aku tidak perlu khawatir apakah daging yang aku beli itu halal atau tidak? atau ini daging sapi asli atau dioplos sama daging anjing? Yang namanya terong ya terong, wortel ya wortel, amat susah dipalsu. Belum lagi kalau memasak daging kita selalu khawatir kalau dagingnya busuk kalau tidak dimasak cepat-cepat. Memasak masakan vegetarian lebih fresh dan sejak itu aku jadi jarang sakit perut karena memakan daging yang tidak dimasak secara benar.

Setelah menjadi vegetarian, tiba-tiba aku memasuki era baru dunia makanan. Dulu aku selalu bosan makan masakan Indonesia, pilihannya cuman tiga yaitu: goreng, bakar atau soto. Variannya tinggal mengganti jenis daging saja, tapi rasanya ya tidak jauh beda. Masakan vegetarian menawarkanku kuliner yang unik, seperti apa kalian tahu kalau kamu masak nangka matang dengan bumbu barbeque rasanya hampir sama seperti daging suwir? atau jamur shitake memiliki tekstur yang sama seperti daging bistik. Dan susah sekali membedakan rasa antara tahu asap dengan hotdog? Dunia makanan vegetarian semakin berkembang dari tahun ke tahun dan inovasi terus bertambah. Aku tidak pernah menyangka kalau list makanan yang bisa aku makan menjadi lebih kaya semenjak menjadi vegetarian.

Setelah jadi vegetarian aku semakin mendengarkan tubuhku, aku pun menyadari bahwa tubuhku terasa segar bugar kalau aku tidak mengkonsumsi susu ataupun telur. Jadi setelah 7 bulan menjadi vegetarian akhirnya di awal 2017 aku beralih menjadi vegan. Transisi pun tidak terlalu sulit karena aku pun juga sudah jarang menkonsumsi susu ataupun telur jadi buat aku tidak ada ruginya untuk menjadi vegan.

Keuntungan yang paling aku rasakan menjadi vegan adalah perubahan fisik yang aku alami. Yang pertama adalah jerawatku mulai hilang. Buat yang mengenal aku dari jaman SMA, wajahku selalu ditutupi oleh jerawat-jerawat batu. Berbagai metode sudah aku coba, dari pergi ke dokter kulit sampai beli produk kulit yang harganya mahal. Beberapa obat malah membuat aku ketergantungan atau bahkan membuat kulitku jadi belang. Aku hampir putus asa dan menerima nasib kalau aku ditakdirkan punya wajah jerawatan sampai aku tua nanti. Tapi setelah tiga bulan menjadi vegan, kulitku menjadi bersih, hampir tidak ada lagi jerawat-jerawat batu membandel. Disaat aku mengkonsumsi produk hewan seperti daging, susu, dan telur, dengan mudah wajahku akan terinflamasi dan membuat sarang yang nyaman buat bakteri untuk berkembang biak.

Perubahan fisik kedua yang aku rasakan adalah tubuhku menjadi lebih fit. Aku penikmat kegiatan outdoor, terutama seperti trekking atau hiking. Tapi aku dulu tidak punya badan yang fit untuk naik gunung. Biasanya di setengah jam pertama aku bakal ngos-ngosan dan sudhuken (sakit perut di bagian pinggang). Tapi setelah menjadi vegan, badanku terasa ringan, jarang sekali aku ngos-ngosan, aku bisa mendaki gunung sambil berlari dan aku pun juga kuat untuk lari jarak jauh dibandingkan sebelumnya dulu.

Dari muda aku juga sering menderita penyakit infeksi saluran kemih atau orang Jawa sering bilang Anyang-anyangan. Penyakit ini paling kuat aku rasakan diwaktu aku di India dan aku tidak tau penyebabnya apa. Setelah aku stop mengkonsumsi susu, kebiasaan anyang-anyang ini berkurang. Tidak heran di India produk susu ada di mana-mana. Ternyata susu dapat menyebabkan inflamasi dan merupakan makanan yang harus dihindari kalau kamu punya Infeksi Saluran Kemih selain dari minum air putih yang banyak

Selain itu keluargaku banyak yang mengidap diabetes. Di keluargaku, diabetes ibarat lottere, tinggal menunggu giliran siapa yang tahun ini akan terkena diabetes. Dulu aku berpikir bahwa diabetes itu sudah garisan tanganku. Tapi ternyata diabetes disebabkan lebih karena gaya hidup dibandingkan dengan genetika. Wajar saja genetika dan gaya hidup berkaitan, karena kebanyakan orang yang tinggal satu rumah punya gaya hidup yang sama dan makan makanan yang sama sehingga diabetes selalu dianggap penyakit keturunan. Tapi banyak studi yang menunjukkan bahwa diabetes bisa disembuhkan dan dihindari dengan mengganti diet vegan. Mencegah lebih baik daripada mengobati.

Menjadi vegan membuat aku lebih dalam memahami bagaimana proses makanan diproduksi, dari pertanian hingga ke meja makan. Praktek apa saja yang dilakukan oleh industri peternakan dan pertanian yang memiliki dampak negatif bagi tubuh kita. Kita terlalu meromantisasi dunia peternakan dengan berasumsi ayam yang kita makan adalah ayam yang berjalan-jalan di kampung atau sapi dengan senang hati memberikan susunya untuk kita minum, padahal prakteknya dunia peternakan penuh dengan kekejaman dan merugikan manusia. Dari ruang hidup hewan ternik yang sempit, suntikan berbagai macam hormon, pangan ternak yang penuh dengan pestisida, dan bahan pengawet. Susu yang kita minum pun tidak lepas dari kekejaman, dimulai dari sapi yang bolak balik di “perkosa” dengan cara inseminasi buatan, lalu setelah dia melahirkan anak, anak sapi akan di ambil secara paksa dan dipisah dari induknya. Si sapi akan dipasangi alat pemerah susu otomatis, terkadang putingnya pun dipotong agar alat ini bisa masuk. Dalam proses pemerahan banyak nanah dan darah yang tercampur dengan susu dan susu akhirnya diberi pewarna agar tampak putih sehat.

Ada hubungan yang erat antara makanan yang kita makan dengan kualitas hidup kita. Buat aku, disaat kita memakan makanan, kita juga menyerap energi yang ditransfer oleh makanan tersebut. Jadi disaat kita memakan horror, pestisida, kekejaman, dan stress dari makhluk hidup yang kita makan, otomatis kita juga menyerap hal tersebut dalam kehidupan kita. Saatnya kita mulai membangun hubungan yang harmonis dengan makanan yang kita cerna setiap hari.