Pikiran

Menjadi diri sendiri – mudah diucap tapi sulit dilakukan

“Be yourself” slogan ini selalu terlihat dimana-mana, dari buku tulis anak TK dengan sampul unicorn warna pelangi sampai iklan rokok di TV. “Be yourself” atau “Menjadi Diri Sendiri” terdengar amat konyol karena selama ini aku ya aku, aku adalah diriku sendiri dong – Tapi apa benar demikian?

Jadi diri sendiri…sebenarnya apa sih artinya?  bagaimana kamu bisa tau kalau kamu sudah menjadi dirimu sendiri? lalu apa sih untungnya menjadi diri sendiri? okay sepertinya banyak sekali pertanyaan yang akan turut baris-berbaris mengikuti slogan ini.

Jadi diri sendiri bukan berarti menjadi lebih dari yang lain, atau berbeda dengan orang lain. Menjadi diri sendiri adalah perjalanan individu untuk memisahkan antara apa yang bukan dirimu dan apa yang benar-benar dirimu. Kalau kamu masih melihat diri sendiri dari pandangan orang lain berarti kamu belum sepenuhnya memahami diri sendiri.

Menjadi diri sendiri membutuhkan kamu untuk melepas seluruh label dan cap yang menempel di dalam diri kamu. Kamu bukanlah jenis kelaminmu, kamu bukanlah agamamu, kamu bukanlah kelompok pertemananmu, kamu bukanlah pekerjaanmu, kamu bukanlah bentuk tubuhmu dan kamu bukanlah apa saja yang pernah kamu lakukan dalam hidupmu. Kamu adalah makhluk ciptaan Tuhan yang sempurna,  Label dan kategori-kategori ini hanya berguna untuk mengkotak-kotakkan kamu sehingga kamu harus bertahan di dalam kotak tersebut. Sedangkan kenyataannya, manusia tidak hidup di dalam kotak. Kita hidup di dunia yang luas dan penuh dengan aneka ragam.Percayalah bahwa label – label ini bukanlah jati dirimu yang sebenarnya melainkan hanya sekedar stereotype saja. Sedangkan setiap individu itu sejatinya adalah unik bukan seragam. Menjadi diri sendiri membutuhkan kamu untuk melepas label-label tersebut agar kamu bisa memahami dirimu sejatinya.

Menjadi diri sendiri juga berarti hidup dengan kondisi mental manusia yang sebenarnya. Kondisi manusia yang hakiki adalah dikala ia bahagia. Dan bahagia bukan datang dari harta benda atau dari orang lain. Kebahagiaan datang dari diri sendiri. Tidak ada orang lain yang dapat membuat kamu bahagia kalau kamu sendiri tidak memperbolehkan dirimu untuk bahagia. Kebahagiaan datang dari menjadi dirimu sendiri dan mencintai dirimu apa adanya. Kebahagian datang dari melakukan sesuatu yang membuat dirimu merasa utuh, sekecil apapun itu ataupun sekonyol apapun itu. Tidak ada orang yang bisa mendikte bagaimana kamu harus menjadi bahagia, keputusan dan tanggung jawab itu berada di tangan kamu.

Kita dari kecil diprogram untuk membeo, kalau guru berkata A kamu harus berkata A. Kalau seorang ulama mengucap “Paha..” kita harus menggenapkan dengan mengucap suku kata “…La. Pahala”. kita dikondisikan untuk mengikuti resep yang katanya adalah resep kebahagiaan: lulus sekolah, wisuda, punya kerja, naik jabatan, punya pasangan, menikah, punya anak, beli rumah, punya mobil dan seterusnya seterusnya. Resep ini bukan jaminan kebahagiaan karena resep ini dibentuk oleh institusi agar manusia tetap berada di dalam “sistem”. Perlu diingat bahwa “sistem” dan institusi tidak dirancang untuk kemakmuran manusia tapi hanya untuk segelintir orang saja, dan sistem tujuannya adalah bentuk kontrol manusia. Tidak dapat dipungkiri bahwa mau tidak mau kita masih hidup di dalam “sistem” ini. Jadi tanyalah kepada dirimu sendiri sebelum kamu mengikuti resep ini satu persatu, “Apakah ini untukku? Apakah ini benar-benar yang aku inginkan?” jika kamu memilih untuk mengikutinya, ikuti hanya kalau kamu mau dan bersedia dengan segala konsekuensinya. Jangan pula panik jika ada mereka yang memutuskan untuk tidak mengikuti resep ini. Karena perjalanan ini sifatnya pribadi dan tak ada seorang pun yang berhak menjudge pilihan masing-masing.

Menjadi diri sendiri mengharuskan kamu untuk melepas ilusi-ilusi yang ada tertanam di diri kamu. Ilusi disini adalah pikiran-pikiran bodoh yang telah mengelabui kamu dan membuat kamu percaya bahwa ilusi tersebut adalah jati dirimu. Ilusi seperti: “aku harus menjadi orang kaya supaya aku bahagia”, atau ilusi “kalau aku melakukan ritual agama berarti aku adalah orang yang lebih baik dari orang lain”atau ilusi “kalau aku mencintai seseorang berarti aku berhak memiliki orang tersebut”. Ilusi-ilusi ini adalah virus pikiran yang tujuannya hanya untuk menyabotase kehidupan kamu, mengalihkan pandanganmu dari kebenaran dan juga mengisolasi dirimu dari orang lain sehingga kamu tidak pernah mengalami koneksi sesungguhnya dengan sesama manusia . Tinggalkan ilusi-ilusi ini dengan cari tahu kebenaran yang sesungguhnya. Sebagai contoh manusia tidak pernah “memiliki” orang lain, karena kepemilikan hanya diperuntukan kepada benda mati, dan arti kepemilikan selalu seiring dengan kata kekuasaan dan kontrol. Mungkin terdengar romantis, tapi jangan pernah tertipu jika pasanganmu bilang kalau “kamu adalah miliknya” – karena yang bisa memiliki dirimu adalah diri kamu sendiri dan Tuhan. Maka tidak heran kalau banyak hubungan percintaan yang gagal karena banyak orang pada akhirnya melihat pasangannya sebagai benda mati bukan manusia yang punya akal dan hati, atau yang lebih buruk, mereka hanya melihat kepemilikan atas alat kelamin pasangannya.

Menjadi diri sendiri tidak hanya dilakukan secara internal tapi juga eksternal.  Apakah kamu pernah menyempatkan waktu untuk melihat dirimu di depan cermin? melihat dan menerima segala kesempurnaan dan ketidaksempurnaan kamu. Buka bajumu dan pandangi seluruh tubuhmu tajam ke dalam cermin. Apakah kamu suka dengan apa yang kamu lihat? atau kamu berusaha berpaling muka karena kamu merasa jijik dengan beberapa centimeter lemak atau bintik bintik jerawat di wajahmu? Menjadi diri sendiri membutuhkan kamu untuk mencintai tubuhmu. Jasmani ini bisa dibilang adalah sebuah “kendaraan” atau “baju astronot” yang membantumu untuk menjelajahi bumi dan berkarya untuk meraih mimpi-mimpimu. Jadi jangan malas untuk merawat tubuhmu dengan cara berolahraga, makan makanan sehat dan menjaga keseimbangan tubuh dan pikiran. Adalah hak untuk manusia untuk sehat dan adalah kewajiban individu untuk membuat dirinya sehat (bukan kewajiban dokter ataupun personal trainer)

Menjadi diri sendiri harus dilandaskan dengan cinta, kejujuran dan keberanian, menjadi diri sendiri membutuhkan aksi untuk melepas segala macam attachment baik itu label, pemikiran dan ilusi. Pemahaman akan diri sendiri pun harus dilakukan secara terus menerus dan proses ini akan terus berlanjut hingga kita mati nanti. Karena tidak ada kebahagaian yang melebihi bahagia menjadi dirimu apa adanya.