Hidup Sehat

Hubungan baik dengan makanan dimulai dari tanah

Sekitar Bulan Mei yang lalu, aku dan teman teman menghabiskan weekend di Tabanan. Kami menyewa salah satu rumah melalui website airbnb. Rumah ini dimiliki oleh seorang pria kebangsaan Inggris bernama Simon. Rumah yang ia miliki sangatlah indah, hanya bangunan bambu tanpa dinding. Disaat kami bangun pagi, kami disambut oleh matahari di arah timur dan disapa oleh Gunung Agung. Rumah Simon dikelilingi oleh hutan makanan, karena lahan rumahnya berada di sekitar perkebunan tumpang sari atau permakultur. Ada berbagai macam tumbuhan yang berada di sekitar pekarangan Simon dari Salak, Kopi, Kunyit, Aren, Kelor hingga Taro.

Di siang hari, Simon menawari kami untuk mencoba hidangan dari penduduk Desa. Dua orang pemuda desa menyiapkan makanan untuk kami, mereka datang dengan membawa clurit. Dan tanpa babibu langsung memotong berbagai macam tanaman di hutan. Dalam waktu satu jam berbagai macam hidangan tersedia. Dari Sayur Taro, oseng oseng kelor dan berbagai macam hidangan lainnya.(Tahu tidak kalau jaman dahulu orang Bali lebih banyak makan taro daripada makan nasi?) Semuanya segar dari pekarangan hutan makanannya langsung.Walaupun porsinya tidak banyak, kami makan dengan lahap hingga puas kekenyangan.Bagaimana dia bisa membuat makanan selezat itu? Jawabannya adalah karena semua bahan makanan mereka diambil langsung dari pekarangan, bukan dibeli di supermarket.

Semenjak momen itu, aku menjadi semakin tertarik untuk memahami lebih jauh tentang hubunganku dengan makanan. Aku sadari bahwa banyak sekali makanan yang tersedia untuk kita konsumsi bukanlah makanan yang sesungguhnya. Buah-buahan dipetik disaat mereka masih muda, di lapisi oleh berbagai macam bahan kimia supaya bisa sedap dipandang mata di supermarket. Makanan instant penuh dengan bahan bahan kimia dan zat penguat rasa. Supermarket dipenuhi oleh tumbuhan dan hasil panen GMO (genetically modified organism) yang memiliki kandungan gizi rendah walaupun produksinya berlimpah.

Lalu bagaimana kita bisa sampai di posisi ini? apa yang salah? Yang salah adalah cara kita mengelola pertanian kita saat ini.

Pertanian adalah alat penjajahan. Untuk menguasai suatu area maka dibutuhkan suatu sistem. Tidak mudah bagi penjajah untuk mengontrol hutan karena sifatnya makhluk hidup yang tinggal di hutan bekerja bersama sama secara simbiosis. Sedangkan pertanian bekerja melalui struktur, hierarki dan produktivitas. Penjajah dapat dengan mudah menguasai tanah dan mengontrol produktivitas dari tanah tersebut, “kalau kamu tidak bisa bayar pajak, maka sebagai gantinya hasil panen akan kami kuasai.” Saat ini para petani dipaksa dan terpaksa untuk mengikuti sistem pertanian yang buas. Petani dipaksa untuk menggunakan bibit yang diproduksi oleh perusahaan global yang bertujuan untuk menguasai pangan dunia. Perusahaan perusahaan ini menciptakan benih yang sudah dimodifikasi secara genetik agar tahan hama dan menghasilkan produksi panen yang melimpah, namun dengan kompensasi bahwa makanan yang kita makan tidak memiliki nutrisi yang sesuai untuk tubuh kita atau bahkan berbahaya dengan tubuh kita. Selain itu benih benih ini membutuhkan petani untuk menggunakan pupuk dan pestisida kimiawi yang berbahaya bagi tubuh kita, tapi selain itu juga dapat merusak tanah.

Tanah adalah bagian terpenting dalam ekosistem, tanah menyimpan berbagai unsur hara dan juga nutrisi yang tak hanya penting bagi tumbuhan tapi juga makhluk hidup lain. Food security bukan hanya mencakup berapa banyak produksi pangan yang bisa kita hasilkan tapi juga perlindungan terhadap tanah dan unsur haranya.  Tanah yang baik memiliki mikroba yang penting bagi alam dan juga manusia. Satu sendok tanah memiliki bakteri, protozoa, fungi, cacing dan puluhan bahkan ratusan makhluk hidup yang penting bagi ekosistem. Mikroba ini memliki jaringan myselium yang dapat membagi nutrisi, data bahkan berkomunikasi dengan tumbuhan satu dengan yang lain. Mikroba dalam tubuh manusia pun berinteraksi dengan mikroba yang ada di tanah dan tumbuhan. Mikroba baik untuk menjaga tubuh kita dari pathogen dan penyakit.

Pertanian dengan menggunakan pupuk kimiawi yang penuh akan nitrogen dan fosfor yang berlebihan dapat merubah struktur dari tanah dan menghilangkan fungi, bakteria dan mikroba baik di dalam tanah. Disaat mikroba hilang maka muncul konsekuensi negatif dari tanah dan juga ekosistem kita.

Solusinya adalah kita harus mulai menanam makanan (baca:tanaman) kita sendiri. Mulailah dengan cara organic dan permakultur. Fokus terhadap kualitas makanan bukan kuantitas. Buat pupuk kompos sendiri dari sisa sisa makanan. Kita harus menggunakan kearifan lokal dalam bercocok tanam, biarkan alam yang mengatur tanah kita. Vegetasi juga mengalami ancaman kepunahan yang sama seperti hewan. Mulai kumpulkan benih benih lokal, dan jaga kelestariannya sebelum mereka punah. Jika kita mau menjaga alam dan bumi kita, mulailah bangun hubungan yang sehat dengan makanan yang kita makan. Cari tahu dari mana makanan itu berasal, masak makananmu sendiri, dan buanglah sisa makananmu secara bijak. Karena alam akan terus mendaur ulang. Apapun yang datang dari tanah akan kembali ke tanah juga.