Travel

Bali di masa pandemi COVID-19

Dari seluruh pulau di Indonesia mungkin Bali adalah pulau yang sangat terdampak dari Corona Virus. Ribuan orang kehilangan pekerjaan. Puluhan hotel saat ini dijual. Bisnis tutup. Ratusan pekerja di rumahkan. Untuk beberapa bulan, Bali yang awalnya ceria, penuh dengan hiruk pikuk orang dari manca negara tiba-tiba menjadi kota mati. Bagaimana keadaan Bali d masa pandemi COVID-19. Berikut kronologisnya

Maret 2020

Pada awal Maret, penyebaran virus mulai terlihat di negara-negara Eropa dan juga Asia. Bali masih optimis bahwa Indonesia akan kebal dengan virus. Masyarakat berpikir bahwa kalau memang ada virus seharusnya rakyat Bali sudah terkena duluan karena begitu banyaknya turis dari Cina datang ke Bali tiap tahunnya. Belum lagi pada bulan Februari, Bali masih menerima tamu dari Cina yang ingin merayakan Tahun Baru Cina di Bali. Tapi setelah Indonesia mulai mengalami kasus, tona berubah di Bali. Masyarakat mulai menganggap virus ini serius

Bandara Ngurah Rai ditutup untuk penerbangan luar negeri

Airport ditutup untuk menerima wisatawan masuk ke Indonesia. Pemerintah juga melarang orang asing untuk memasuki wilayah Indonesia. Momen ini digunakan pemerintah Bali karena bertepatan juga pada tanggal 25 Maret 2020 adalah perayaan Nyepi. Pemerintah memperpanjang Nyepi menjadi dua hari. Jadi orang-orang tidak ada yang boleh keluar selama dua hari di rumah

April 2020

Pada Bulan April, pemerintah Bali dan juga segenap aparat Banjar Desa melakukan aksi gotong royong untuk pencegahan COVID. Jam malam diberlakukan. Restoran, supermarket buka lebih lambat dan tutup lebih cepat. Setiap daerah memiliki ketentuan yang berbeda-beda. Tapi rata-rata Supermarket akan buka jam 10 pagi dan tutup jam 7 malam. Setiap malam jam 8, akan ada pecalang yang patroli untuk memastikan bahwa restoran dan toko-toko tutup sesuai dengan peraturan.

Di berbagai daerah terdapat check point. Setiap hari ada jadwal piket para pecalang yang akan standby di tempat check point. Tugas mereka antara lain memastikan bahwa semua orang yang masuk desa harus menggunakan masker. Sebelum masuk desa, mereka akan memberikan hand sanitizer dan juga di beberapa tempat mobil atau motor juga akan di disinfektan.

Persimpangan Kuta yang sepi seperti kota mati

Setiap malam kita bisa mendengar para pecalang lalu lalang menggunakan mobil patroli dan mengumumkan hal-hal seperti “Cucilah tangan anda! Jangan lupa pakai masker! Jaga Jarak!” agak aneh mendengar hal seperti ini di Bali. Sudah seperti Film Twilight Zone

Disaat sulit seperti ini beberapa orang berkumpul untuk berdonasi. Ada villa yang memberikan makan gratis kepada warga yang membutuhkan. Ada sekelompok orang yang memproduksi APD kepada Rumah Sakit. Ada juga komunitas orang asing yang mengumpulkan donasi untuk memberi makan kepada orang miskin yang terkena dampak pandemi.

Mei 2020

Setiap peraturan pasti ada yang melanggar. Beberapa bisnis punya cara untuk tetap buka walaupun sudah waktunya tutup. Terkadang mereka harus mematikan lampu dan menutup gerbang biar terlihat tutup dan tidak didatangi oleh para pecalang. Beberapa tempat pun yang awalnya hanya menyediakan take out sekarang sudah mulai membuka limited dine in.

Daerah pariwisata masih ditutup, tapi jika pintar anda masih bisa menikmati pantai. Berkurangnya turis maka alam mulai terevitalisasi. Penyu-penyu mulai bermunculan di Pantai Kuta dan bayi-bayi kura-kura menetas.

Para pekerja yang dirumahkan akhirnya mengembangkan skill entrepreneur mereka dengan berjualan online. Seorang agen visa selain mengurus perpanjangan visa juga sekalian berjualan donut kepada pelanggan mereka. Atau anda bisa membeli rujak atau sate lewat whatsapp yang dijual oleh mantan driver tour. Para supplier makanan di hotel dan restoran juga mulai menerima pesanan individu sehingga anda bisa mendapatkan makanan kualitas tinggi dengan haga murah.

Walaupun begitu semua orang berharap ini akan segera berlalu karena pemerintah mengumumkan kalau Bali akan dibuka pada bulan Juni.

Tapi yang terjadi kasus di Indonesia semakin bertambah, penerbangan domestik diberhentikan. Supply barang menjadi terhambat karena pembelian dari udara sekarang dipindah lewat jalur darat. Selain itu Denpasar juga mengadakan PKM (Pembatasan Kegiatan Masyarakat) sehingga menyulitkan mobilitas warga. Walaupun PKM ini hanya bertahan sebentar saja

Juni 2020

Karena kasus bertambah maka Bali tidak jadi dibuka. Rakyat pun semakin gelisah. Beberapa orang memutuskan untuk pulang kampung dan kembali bertani. Pemerintah mengumumkan kalau Bali akan dibuka untuk wisatawan lokal di Bulan Juli dan wisatawan mancanegara di bulan September

Beberapa daerah pariwisata mulai dibuka untuk orang di Bali. Orang-orang mulai mengunjungi pantai, dan air terjun. Warga Bali mulai mengadakan upacara ngaben dan purnama. Tempat pura mulai terlihat ramai, orang-orang mandi di air tirta. Kehidupan mulai terasa normal di Bali

Sayangnya beberapa bisnis yang ikonik tidak mampu untuk bertahan di masa pandemi. Banyak sekali bisnis yang tutup permanen atau sementara.

Pemerintah Indonesia menangguhkan emergency visa yang diberikan kepada orang asing. Karena tidak jelasnya komunikasi dari pemerintah pusat. Banyak orang asing yang pada awalnya memilih tinggal di Indonesia memutuskan untuk pulang ke negaranya. Bali yang sudah kekurangan wisatawan makin kehilangan wisatawan.

Juli 2020

Musim layangan pun tiba. Karena begitu banyaknya waktu luang dan juga anak-anak tidak bersekolah setiap hari anda bisa melihat ratusan layangan di langit. Dari pagi hingga malam. Dengan berbagai macam rupa dan warna. Mewarnai langit yang cerah dan meyakinkan kita bahwa Bali akan baik-baik saja.

Acara-acara mulai kembali diadakan walaupun ada pembatasan jumlah dan juga protokol kesehatan. Restoran dan Supermarket mulai buka dalam jam normal seperti biasa. Warga mulai beraktivitas dan menemukan flow nya masing-masing dengan rutinitas baru

Kembali lagi praktisi wisatawan dikecewakan karena Bali tidak jadi dibuka untuk wisatawan asing karena masih berlakunya Peraturan Menteri Hukum dan HAM No 11 tahun 2020. Pemerintah berharap untuk mengetes kesiapan Bali dengan menerima wisatawan domestik dan memastikan bahwa pariwisata tidak menimbulkan dampak negatif dan peningkatan kasus sebelum menerima wisatawan asing.

Wisatawan lokal dari Jakarta mulai berdatangan. Cukup unik karena kebanyakan sekarang hanya wisatawan jakarta saja yang datang ke Bali dan bisa terlihat secara jelas, satu tempat yang digemari orang Jakarta bisa penuh total, dan tempat sebelahnya kosong melompong.

Agustus 2020

Musim layangan tetap berjaya di langit walaupun anak-anak sudah masuk sekolah. Bisnis berjalan seperti biasa dan warga tetap gigih berwirausaha walaupun di masa yang tidak menentu.

Disaat blog ini ditulis, Bali memiliki jumlah 5,500 kasus COVID dan 4,600 sembuh. Warga Bali percaya ini semua berkat atas doa dan juga jerih payah gotong royong yang mereka lakukan. Warga Bali tidak takut akan penyakit ini. Tetap menerapkan protokol kesehatan tapi yang terpenting mereka terus meningkatkan daya imun tubuh dengan makan-makanan sehat, olah raga, perbanyak kena sinar matahari dan tetap bersyukur dan bahagia.

Salah satu Mangku di Bali yang mengingatkan saya “Banyak-banyak bersyukur ya mbak, itu aja kok obatnya”. Saya optimis ekonomi Bali bisa bangkit. Pandemi ini mengajarkan kepada warga Bali untuk kembali ke akarnya yaitu kembali mengelola tanah dan alamnya.

Blog ini akan terus di update untuk mencatat situasi Bali di masa pandemi COVID-19 hingga pandemi dinyatakan selesai